Category Archives: Taman

Milestone 33 Tahun Majalah Griya Asri

Milestone 33 Tahun Majalah Griya Asri

Di “Jembatan Lintas Waktu” itu hadir tiga “Gapura Dramatik” yang menandakan tahun-tahun tertentu bagi gerbang era atau fase memilih sebagai Asri. Gapura pertama sebagai tahun 1998, menandakan masa susah ketika saat tersebut terjadi krisis moneter, tahun 2000, sebagai fase memiliki legalitas formal untuk bentuk perusahaa serta tahun 2004, Asri mengubah penampakan logo sebagai lebih modern.

Dekat anak tangga pertama untuk tahun 1983, berada saung rumah tradisional gebyok jawa, ini membuat simbol ketika saat dimulai pertama kali Asri pada suasana serta keadaan serba terbatas. Ketika menjalani jembatan lintasan waktu, di tahun 2016 ingin bertemu nuansa yang lebih modern, yang menggambarkan suasana kekinian.

milestone2
Heru Wicaksono, penggagas gaya milestone 33 tahun Asri
“Jika manusia berulang tahun, jatah usia hidupnya di dunia berkurang, tapi jika sebuah institusi berulang tahun, tersebut berarti sebuah momen lahir kembali.” ujar Heru Wicaksono, penggagas gaya Milestone Asri.

Heru yang pun Principle di PT Garis Catur Perdana (Riscadana), Interior serta Konsultan Arsitektur menciptakan tonggak perjalanan awal beserta tonggak hari ini dengan Milestone Asri, yang membuat tukang taman minimalis refleksi sebagai bukan sekadar evaluasi dan juga berbenah diri, tapi pun mempersiapkan diri sebagai mampu lebih tangguh lagi menanggapi tahun-tahun yang berada di hadapan. Ia pun menciptakan “Jembatan Lintas Waktu”, dari awal berdirinya Asri hingga saat ini.

Di sebelah “Jembatan Lintas Waktu” waktu hadir model sampul majalah Asri edisi awal-awal berdiri serta foto-foto karya fotografer Asri dan juga tulisan redaksi. hadir pun tempat tokoh serta tempat personal Asri. “Asri merupakan majalah yang miliki kekuatan di foto-fotonya, serta design bercerita lebih dari tulisan, sosok-sosok dibalik desain tersebut, yakni fotografer, perlu ditampilkan, pun setiap bagian yang hadir di internalnya. Perjalanan waktu ini mencerminkan daya juang penduduk yang terlibat di dalamnya.” lanjut Heru.

3 Taman bagi Berekreasi di Jakarta Selatan

3 Taman bagi Berekreasi di Jakarta Selatan

Berlibur ke taman mungkin tidak dijadikan opsi penting sebagai orang-orang Jakarta mengingat terbatasnya lahan terbuka hijau yang hadir. Padahal, masih berada lho, taman-taman keren yang mungkin bapak/ibu tak tahu. taman selain bagi area rekreasi pun dapat membuat area berolahraga, alternatif wisata yang menyenangkan sekaligus menyehatkan. Berikut 3 taman di Jakarta Selatan yang sesuai sebagai bersantai serta melepas penat. Yuk, piknik ke taman!

Taman Tebet
Taman Tebet atau yang pun dikenal didalam sebutan Taman Tebet Honda, berada di dengan Jalan Tebet Barat Raya beserta Jalan Tebet Timur Raya, Jakarta Selatan. Selain menyuguhkan pemandangan hijau melalui tanaman dan juga pepohonan yang hadir, di sini bapak/ibu pun sanggup berolahraga, karna berada alat-alat kebugaran yang bebas di pilih, arena bulutangkis, beserta jogging track. berada fasilitas terapi refleksi, pun, lho!

Taman Tabebuya dahulunya bernama tukang taman Kahfi, lokasinya di daerah Jagakarsa, Jakarta Selatan. diberi nama Taman Tabebuya karna di taman ini luas tanaman tabebuya (Chrysotricha). Selain berada aneka permainan seperti ayunan dan juga perosotan, di taman ini pun berada gazebo, sesuai banget bagi bersantai di saat panas menyengat. bapak/ibu pun dapat duduk-duduk melepas lelah di pinggir danau.

Sebelum direfungsi dijadikan Taman Mataram, dahulu halaman ini ialah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). tinggal di Jalan Mataram Raya, Jakarta Selatan, kini, Taman Mataram ialah ruang publik yang menyenangkan untuk hadirnya bermacam-macam fasilitas, seperti kursi taman beserta halaman bermain anak. sesuai sebagai bersantai sore sembari bercakap-cakap untuk pasangan.

Kini Nepenthes luas dibudidayakan untuk tanaman hias, bahkan mengalahkan pamor tanaman gelombang cinta yang pernah naik daun beserta selangit harganya. biasanya, kantong semar ditanam bagi tanaman hias pot gantung dalam kantong-kantong yang dibiarkan menggantung.