Sehelai Kata di Antara Jarak

By | December 10, 2017

Kamu, pertama kali aku melihatmu adalah saat engkau datang ke rumahku. Di situ pertama kali aku kenal denganmu. Kau datang ke rumah dan bertemu dengan ayahku. Yang kutahu saat itu adalah kau bertemu dengan ayahku, untuk bersilaturahmi. Dan bukan untuk bertemu denganku sebagai anaknya.

Pertama kalinya berteman serta bersalaman denganmu telah berdegup jantungku. Saya berusaha untuk mengobrol denganmu di sela-sela pembicaanmu dengan ayahku. Saya ajukan pertanyaan kepadamu apa pekerjaanmu, apa jurusan kuliahmu, serta th. berapakah kelulusanmu. Sedikit kaget campur bahagia rasa-rasanya mendengar jawabmu. Menghetahui kalau saya serta kau nyaris sama latar belakang pendidikan kita. Rasa-rasanya seperti mimpi saja, pertama kalinya berjumpa dengan orang yang lain serta telah terasa pas. Saya selalu ajukan pertanyaan kepadamu mengenai kehidupan pendidikan serta lingkungan pekerjaanmu, serta kau selalu menjawab sembari tersenyum, di sela-sela kita bicara, bapak serta ibuku turut ajukan pertanyaan kepadamu. Serta jawaban-jawaban yang kau beri membuatku mengagumi akan kepadamu.

Demikian lama bicara denganmu, saya sadar kalau maksudmu kerumah yaitu untuk berjumpa dengan ayahku. Jadi penyambung tali bersilahturahmi ayahku dengan ayahmu. Ya, di masa datang baru saya tahu kalau bapak kita berteman baik.

Saya juga undur diri dari perbincangan, berikan ruangan untukmu serta ayahku bicara banyak. Kalian sama-sama menceritakan mengenai kampung kelahiran dalam bhs ibu kalian. Ya, saya baru tahu di situ kalau kau dilahirkan di tanah yang sama juga dengan ayahku dilahirkan. Kadang-kadang kalian hening, serta mulai sekali lagi perbincangan. Saya tahu, canggung tentu rasa-rasanya bicara dengan orangtua yang tidak sering kita jumpai. Ditambah lagi dia yaitu rekan dari orangtua kita. Saya selalu memerhatikanmu diam-diam waktu kau mengobrol dengan ayahku. Suka rasa hatiku saya dapat bicara leluasa serta terasa pas dengan pria yang diperkenalkan ayahku. Sampai kini belumlah ada pria yang diperkenalkan ayahku serta saya terasa pas maupun saya memperkenalkan pria pada ayahku serta dia terasa pas. Belumlah ada sekalipun.

Saya selalu memerhatikanmu sembari tersenyum, serta kurasa ibuku menyadarinya. Begitu bahagianya ibuku waktu melihatku jatuh cinta sekali lagi sesudah demikian lama anak gadisnya patah hati karna pria yang memanglah sekalipun tidak pantas untuk ditangisi.

Saat selalu berlalu serta tibalah waktu Ashar. Kau mohon diri untuk sholat di rumahku. Makin mengagumi akan saya kepadamu, tidak sering sekali ada pria yang saya kagumi sholat pas saat maupun berkunjung sholat disini. “Ternyata orangtua akan tidak sembarang memperkenalkan orang. ” Fikirku waktu itu.

Tapi nyatanya saat berlalu demikian cepat, telah saatnya kau mesti pulang. Rasa kehilangan menyergapku demikian saja, tidak menginginkan rasa-rasanya kau cepat-cepat pulang.

“Nanti jika ada saat bisa main kesini sekali lagi ya. ” Pamitmu pada ibuku waktu mencium tangannya. Terharu saya memandangnya. Rasa kagumku makin besar kepadamu.

Tetapi, satu kekeliruan terbesarku waktu itu, saya tidak paham namamu.

Hari-hari selalu bertukar, saya tetaplah tidak paham siapa namamu. Kucoba untuk ajukan pertanyaan pada ibuku karna saya malu rasa-rasanya ajukan pertanyaan pada ayahku. Nyatanya ibuku juga tidak menghetahui namamu, yang ibuku tahu yaitu nama ayahmu. Pupus sekali rasa-rasanya saya waktu itu. Nama saja saya tidak paham terlebih media sosialmu. Bagaimana dapat saya mencarinya bila nama saja tidak paham?

Lantas saya selalu menyibukan diri untuk melupakanmu, walau mengenaimu seringkali isi buku harianku tiap-tiap malam. Begitu saya kagum pada serta merindukanmu di malam-malam sepiku.

Sampai disuatu hari, saya iseng buka sosial media yang telah lama sekali saya tidak buka. Tersadar, karna demikian repot mengurusi sidang kelulusanku tempo hari, saya melupakan semua hingga dunia maya. Serta demikian saya buka sosial media, ada keinginan pertemanan dari sesorang yang telah tidak asing sekali lagi. Itu anda, yang senantiasa mengambil alih hati serta fikiranku.

Begitu senangnya, kata hati ku waktu itu, pada akhirnya saya temukan langkah untuk berkomunikasi denganmu. Tapi yang paling terutama yaitu, saya tahu namamu. Pernah terfikir bagaimana dapat anda temukan media sosialku. Lantas saya kirim pesan di media sosialmu. Awalilah komunikasi tersambung diantara kita. Kita bertukar narasi keseharian, sampai pada akhirnya nomor ponsel.

Bahagia rasa-rasanya kau tahu namaku, sampai dapat temukan akun media sosialku hingga komunikasi dapat tersambung dengan indahnya. Berulang-kali saya ajukan pertanyaan kepadamu bagaimana kau dapat tahu serta jawabmu senantiasa, “intuisi” sampai akupun capek untuk ajukan pertanyaan sekali lagi.

Serta sampailah kita pada pertemuan ke-2, di situ kita berjumpa cuma sebentar serta tanpa ada orangtua. Bahagia rasa-rasanya dapat jalan di sampingmu serta bicara terlepas denganmu. Untuk pertama kalinya kau menceritakan mengenai kehidupan pribadimu. Mengenai keluargamu, yang sesungguhnya saya sudah mengetahui dari ibuku, namun saya berupaya menghormatimu serta saya selalu mendengarmu menceritakan. Sampailah anda bicara mengenai kehidupan asmaramu. Dimana saya tahu kalau kau barusan pulih dari patah hatimu, ya saat kau ke rumahku serta kita berteman untuk pertama kalinya, waktu itu kau barusan pulih dari ‘sakitmu’ itu.

Akupun berpikir, apakah ini gagasan Tuhan mempertemukan kita? Karna memanglah detik-detik sebelumnya mengenalmu yaitu detik-detik saya mengobati hatiku dari rasa sakit karna cinta. Apakah ini narasi Tuhan? Mempertemukan dua manusia yang keduanya sama baru pulih dari sakit hati karna cinta, mempertemukan dua manusia yang keduanya sama sama-sama mencari jalan hidup? Saya tidak paham, tapi saya tahu Tuhan senantiasa berikan narasi sendiri pada tiap-tiap orang yang kita jumpai. Tak tahu itu jadi teman dekat maupun pacar. Entahlah apakah itu maksud Tuhan, tapi dari awal saya mengenalmu saya terasa kau yaitu hadiah dari Tuhan untukku.

Makin saya dekat serta mengenalmu, makin saya terasa pas denganmu. Nyatanya banyak kesamaan dalam diri kita. Saya tidak temukan sedikitpun kekuranganmu, serta saya mengharapkan kau rasakan itu juga padaku. Yang saya dapatkan senantiasa keunggulanmu, bagiku kekurangan yang baik yaitu kekurangan yang kita buat jadi keunggulan kita. Serta saya temukan itu kepadamu. Mudah-mudahan kau juga temukan yang sama dalam diriku.

Serta tibalah waktu itu, waktu dimana kau mesti geser serta merantau sekali lagi karena pekerjaanmu. Berat rasa-rasanya saya melepasmu ke pulau seberang. Dua hari sebelumnya kepergianmu, kau meluangkan diri untuk bersilaturahmi serta pamit pada orang tuaku. Sedih sekali melihatmu berpamitan dengan ke-2 orang tuaku. Rasa sakit mencekam dalam dada. Tetapi, saya tetaplah tersenyum kepadamu.

Sesudah bersilaturahmi dengan keluargaku, kau masih tetap meluangkan diri temaniku jalan-jalan. Walau sebenarnya waktu itu kau belum juga mengepak logistik sekalipun. Belum juga menyiapkan pembekalanmu untuk merantau sekali lagi. Kau memaksakan diri untuk temaniku.

Saya tahu saya egois, bukannya saya menampikmu temaniku jadi saya mengiyakan ajakanmu untuk temaniku. Saya tahu, rasa-rasanya juga akan susah sekali melepasmu keesokan hari. Juga akan susah rasa-rasanya lihat senyum serta tawamu dari jauh. Oleh karena itu saya egois, membiarkanmu temaniku sampai larut.

Saat magrib tiba, kita masih tetap repot dengan saya yang masih tetap mencari sendal untuk hari wisudaku. Kau memaksaku untuk pilih cepat, karna kau belum juga melakukan sholat maghrib. Terharu rasa-rasanya saya, umumnya saya yang memaksa pria yang bersamaku untuk sholat, saat ini saya dipaksa pria untuk sholat. Makin besar cintaku kepadamu, karna akhlakmu.

Saya pernah menyuruhmu untuk memadukan saja sholat maghribmu dengan isya, kau melarang dengan keras. Lantas kau ajukan pertanyaan padaku apakah saya seringkali sesuai sama itu. Kujawab iya apabila saya tengah tidak dirumah. Lalu kau menasehatiku kalau itu tidak bisa, sempatkanlah kita untuk melaksanakan ibadah di dalam aktivitas atau perjalanan kita serta itu yaitu harus. Tidak bisa memadukan apabila jarak perjalanan masih tetap sedikit. Oleh karena itu saya menuruti saja perintahmu untuk melakukan sholat maghrib terlebih dulu.

Tahukah anda di sela sholat maghribku saya menangis? Ya saya menangis. Karna sosok ini besok lusa telah juga akan meninggalkanku serta hidup merantau di pulau seberang. Saya menangis sosok ini yang umum menolongku waktu tersesat, besok lusa telah ada di pulau seberang. Saya menangis sosok ini yang senantiasa meluangkan diri untuk temaniku meskipun remeh, besok lusa telah ada di pulau seberang. Saya menangis sosok ini yang senantiasa memberi pengetahuan agamanya ini meskipun dia terasa masih tetap sedikit, besok lusa telah ada di pulau seberang. Tersadar kalau kau tengah menungguku usai sholat, saya menyeka air mataku serta menghampirimu. Kuberikan senyum termanisku kepadamu serta mohon maaf kalau saya lama. Kuberikan argumen sholatku memanglah agak lama, serta buka karna air mata.

Ya serta pada akhirnya malam juga tiba. Telah saatnya kita berpisah. Hatiku menjerit tidak menginginkan rasa-rasanya saya ditinggal olehmu. Tetapi apabila ku sampaikan, itu bermakna saya egois. Telah cukup ke egoisanku hari itu. Saya tidak menginginkan sekali lagi jadi beban fikiranmu. Kulepas kau dengan senyum, serta berkata semuanya juga akan baik-baik saja. Ya, telah saatnya saya mandiri serta tidak sekali lagi merepotkanmu dengan rengakan serta sikap anak kecilku.

Kau pernah memohonku untuk melepasku besok lusa sebelumnya pergi, kubilang saya tidak dapat. Sesungguhnya, saya cuma tidak dapat melepasmu. Saya tahu, apabila saya mengantarmu makan saya juga akan menangis dihadapanmu serta jadi jadi beban fikiranmu. Saya tidak ingin itu. Jadi kubilang kepadamu kalau saya ada masalah yang tidak dapat ditinggalkan serta mohon maaf kepadamu.

Ya, malam itu yaitu malam paling akhir kau disini. Namun jadi satu awal yang baru untuk kita. Kau berpesan padaku selalu untuk melindungi sholat lima waktuku serta tidak seenaknya memadukan sholatku. Saya cuma mengangguk saja karna mulutku telah tidak dapat berkata apa-apa sekali lagi. Kuberi senyum termanisku jadi sinyal perpisahan serta pengingat kalau disini senantiasa ada saya yang menunggumu. Ya, saya tidak ingin anda mengantarku ke tempat tinggal karna saya telah tidak dapat sekali lagi menahan tangis. Berat rasa-rasanya melihatmu jalan membelakangiku. Kutatap selalu badanmu dari belakang hingga tidak sekali lagi tampak.