Cara Jitu Jual Beli Tanah Warisan

By | November 19, 2017

Jual beli tanah warisan adalah perkara mudah, sama halnya dengan proses jual beli yang ada. Hanya saja, perbedaannya ada pada pajak-pajak yang dibebankan kepada penjual karena jual beli tersebut. Jika pada jual beli biasa, orang yang tercantum di sertifikat tanah hadir untuk menandatangani akta jual beli.

Kesempatan ini jual beli tanah warisan dikerjakan penjual yang disebut pakar waris dari seseorang yang sudah wafat dunia. Karenanya, juga akan ada keharusan membayar pajak waris.

Pakar waris yang ada juga akan dibuktikan dengan terdapatnya Surat Info Waris (SKW). Untuk WNI asli, SKW di buat dibawah tangan dengan di tandatangani oleh dua orang saksi serta disahkan oleh lurah serta dikuatkan oleh camat setempat. Disamping itu, untuk WNI keturunan Tionghoa serta Eropa, SKW di buat dengan akta notaris serta untuk Warga Negara Indonesia keturunan Timur Asing, seperti Arab serta India SKW di buat oleh Balai Harta Peninggalan.

Kadang-kadang untuk masalah spesifik SKW dibuatkan dengan penetapan pengadilan atau yang umum dimaksud fatwa waris. SKW dengan Penetapan Pengadilan diperlukan terlebih untuk keadaan pakar waris terbagi dalam beberapa orang yang punya potensi menyebabkan sengketa. Hal semacam ini dapat berlangsung bila pewaris adalah orang dengan tingkatan yang telah jauh dengan vertikal dalam hubungan kekeluargaan.

Dalam Hal Pakar Waris Tinggal di Tempat yang Berjauhan

Bila ada pakar waris tinggal di tempat yang berjauhan dengan objek tanah, untuk di tandatangani akta jual beli dapat memberi kuasa untuk jual berbentuk akta notaris atau legalisasi pada salah seseorang pakar waris yang lain. Akta kuasa untuk jual dapat di buat dihadapan notaris tempat si pakar waris ada. Kuasa untuk jual ini tidak dapat di buat dibawah tangan saja. Dimana ketika pembuatan akta jual beli dihadapan PPAT, asli akta kuasa untuk jual itu mesti dilampirkan.

Baca Juga: Contoh surat perjanjian

Dalam Hal Sertifikat Atas Nama Suami, Tapi yang Wafat Istri

Bila sertifikat atas nama suami, tapi yang wafat istri, sertifikat itu tidaklah perlu dibalik-nama ke semua pakar waris. Walau demikian, mungkin dikerjakan karna tak ada ketentuan yang melarang bila pemegang hak menginginkan membalik-nama sertifikat itu ke atas nama semua pakar waris. Sebagian kantor pertanahan mewajibkan permintaan juga memasukkan pernyataan besaran dalam persentase semasing hak pakar waris.

Bila tanah ini juga akan di jual jadi semua pakar waris yakni anak-anaknya mesti ikut memberi kesepakatan dalam akta jual beli karna didalam tanah itu ada harta dengan sebagai punya anak-anaknya.