Gurihnya Parade Strike di Pulau Alor

By | October 28, 2017

Siapa yang tidak mengenal pulau Alor-NTT? Tujuan wisata memancing kelas dunia sangat mendambakan memancing antusias yang sporty – tidak hanya di rumah tapi juga pemancing di luar negeri. Semua ini karena perairan teritorial Alor sangat subur dengan berbagai ikan pelagis dan ikan demersal (ikan yang habitatnya berada di dasar laut). Dunia bawah laut yang kini digadang-gadang juga menjadi saingan paling sulit dari wisata maritim nomor 1 dunia – Karibia.

Hal ini dibuktikan oleh pecinta joran pancing mania, Heri Skatetrue, Andri, Sony, Joseph Wone, Rudi Suwanto, William Wibisono dan Andy Thamrin saat melakukan perjalanan di Alor dari tanggal 11 sampai 15 Oktober 2017 kemarin. Kesempatan itu merupakan momen spesial yang sulit ditemukan korespondensi.

Kapan, tujuh nelayan berusia tujuh tahun berpengalaman melawan predator tersebut. “Nah, ini benar-benar kesempatan langka untuk memancing di Alor. Keindahan alam dan potensi ikannya luar biasa,” kata Heri.

Perjalanan Alor sebenarnya direncanakan terlebih dahulu oleh ketujuh nelayan yang berasal dari beberapa kota ini. Dalam perjalanan memancing 4 hari, tim yang berada di atas kapal KM Natalia, menjelajahi tidak kurang dari 5 titik paling potensial di kawasan timur Indonesia. Disutradarai oleh Ndank Susandy – kapten kapal, kru dibawa ke tempat memancing terbaik di setiap lokasi.

Keluar dari pelabuhan Kalabahi – Alor, KM Natalia – Kapal nelayan dengan fasilitas lengkap, membawa nelayan itu ke tempat pertama, Naga Laut Spot. Dibutuhkan 10 jam dengan mobil dari Kalabahi untuk sampai ke titik ini. Sesampainya di tempat pada malam hari – melalui persiapan yang matang, tim tidak menyia-nyiakan waktu dan segera menurunkan umpan logam dan memancing dengan teknik Jigging dan Cast Jigging. Tidak sia-sia, ada juga tunas anjing parson, tuna kuning dan perjalanan mata yang besar (kuwe membunuh yang indah).

Begitu pula pada hari kedua, tim tersebut diarahkan ke Pulau Rusa setempat. Butuh waktu 1 jam untuk melakukan perjalanan dari tempat pertama. Di perairan ini, nelayan berhasil memanen ikan scam berupa beberapa Rubi Snapper, Kuris Bali dan, tentu saja, nelayan jigging-amberjack. Pemogokan setelah pemogokan terus menghabiskan hari kedua semalaman di lokasi ini.

Wilayah Alor sekitar 2.864,64 KM2, keseluruhannya merupakan kepulauan yang dilintasi jalur laut internasional ke Samudra Pasifik. Secara keseluruhan, Alor memiliki 20 Kepulauan, dengan rincian 9 pulau berpenduduk dan 11 pulau tak berpenghuni. Untuk perairan yang luas, kru menjelajahi Alor dengan kru kapal yang sangat baik.

Memasuki hari ketiga, tim menjelajahi lokasi Batu Gunting, yang menempuh perjalanan sejam dari tempat kedua. Kapten Ndank kembali menurunkan jangkar di tempat yang beberapa predatornya ditujukan untuk ikan. Masih menerapkan teknik Jigging dan Cast Jigging ke tim tim lagi, mencari perburuan dasar.

Yusuf Wone dan Kurisi Bali Sungguh, berkat kondisi ikan yang dalam cuaca baik, hiruk pikuk dingin kembali muncul. Tapi yang membuat penasaran sering terjadinya mocel dan memutus tali karena tidak berkelahi kuat dengan predator perairan Alor. Keingintahuan ini tentu membuat nelayan semakin bersemangat.

Hari terakhir, KM Natalia memasuki perairan Gunung Laut dan Gunung Berapi, yang memakan waktu 5 jam dari tempat sebelumnya. Pada titik ini, lagi-lagi pancing jebakan tersebut berulang kali menangkap sinyal ikan. Spesies ikan, seperti tuna kuning, tuna gigi anjing dan mata besar, tersedotnya perolehan para nelayan di tempat.

Beberapa jenis ikan ada di Pulau Alor, Kekayaan laut alami Alor yang diciptakan oleh beberapa fenomena alam tergolong langka, karena kemunculan (kejadian kejenuhan air laut akibat pergerakan angin di atasnya) – yang mampu membawa nutrisi pada pertumbuhan fitoplankton di dekat permukaan laut Hal lain adalah jarangnya nelayan lokal yang bisa mencapai titik potensial karena arusnya sangat cepat hingga 6 knot.