Untuk Seluruh Sahabatku yang Gemar Menulis

By | October 17, 2017

Aku kembali mengingatkan diriku untuk lebih berhati-hati dalam menulis karena aku sadar bahwa suatu saat nanti, apapun yang ku lakukan akan dimintai pertanggung jawaban oleh Tuhan.

Menulis bukanlah semata-mata karena ingin mendapatkan pujian atau penghargaan apresiasif atau bentuk perjuangan popularitas, dengan menipu banyak orang lewat aksi berpura-pura baik. Tentu bukan itu.

Dalam menebar ide positif, yang perlu di perhatikan yaitu keperluan manusia. Tidak cuma hasratnya. Jadikan issue menguasai jadi bahan tulisan yang tidak ada habisnya juga tidak baik, di satu bagian, itu adalah tanda-tanda kekurangan kita dalam membuat inspirasi, untuk beberapa orang disimpulkan minim pikiran, oleh karena itu, pastikan beberapa topik yang berguna untuk beberapa orang, walau tidak popular.

Seorang bijak pernah berkata:

“Betapa banyaknya Ilmu dan sedikitnya waktu”.- Ali Bin Abi Thalib

Saya menyimpulkan kalau kita mesti perdalam suatu hal yang memberikan inspirasi diri kita, tidak butuh mengerti beberapa hal, serta tidak selamanya mesti disukai orang yang lain. Karna yang ramai digemari belum juga pasti diperlukan. Saat hidup yang cepat atau lambat juga akan hentikan oleh Tuhan sangat murah bila di habiskan sekedar untuk menyemarakkan berita-berita temporer sekitar politik, ketidaksamaan pandangan serta berita-berita yang lain yang kita keduanya sama tahu kalau berita-berita itu tidaklah terlalu perlu untuk dibicarakan terus-menerus.

Waktunya kita bergegas dari yang awalannya mewartakan issue menguasai pada pengetahuan yang membuat peradaban, dari repot masalah politik serta isu gak perlu berpindah pada beberapa hal yang lebih berguna. Karna menulis juga adalah pertanggung jawaban moral dari beberapa pengetahuan yang kita punyai. Menurutku, membaca yaitu mengkoleksi hutang intelektual, melunasinya lewat cara menulis.

Serta sekali lagi, benih inspirasi untuk menyempurnakan diri dan ide yang berbuntut pada pembangunan moral tumbuh dalam fikiran yang jernih, lepas itu juga akan jadi tindakan atau cuma ilusi. Akhirnya, memberikan nasehat tidak sepenting introspeksi, menulis kebaikan tidak sepenting mengaplikasikannya serta ngomongin politik tidak sepenting membenahi diri.

Kritik tidak mesti nyentrik.

Membahas tidak mesti memberikan pujian pada.

Menulis tidak mesti idealis.

Beberapa hal kok yang dapat ditulis, namun kadang-kadang egoisme serta rasa menginginkan dipuji buat kita lupa kalau kita bukanlah siapapun juga. Buat kita terasa jadi penyambung lidah Tuhan untuk mengemukakan kebaikan, berasumsi diri kita sangat cerdas untuk cuma diam serta merenung, Hingga terasa berkewajiban ada di tempat paling depan dalam mewartakan issue terbaru.

Jadi penutup, yang butuh kita semuanya mengerti yaitu. Menulis berarti memposisikan cermin kehadapan diri, bukanlah untuk memberikan nasehat orang yang lain. Bila beberapa orang yang meminjam cerminmu, itu tanda kacanya bersih.