Pontianak

By | October 16, 2017

Hotel Murah di Cihampelas Bandung

Kode Pos

Pontianak

Kota Pontianak adalah ibu kota provinsi Kalimantan Barat yang didirikan oleh Syarif Abdurrahman Alkadrie sebagai ibukota Kesultanan Kadriyah pada tanggal 23 Oktober 1771/14 Rajab 1185 Hijriah. Syarif Abdurrahman Alkadrie mengembangkan Pontianak sebagai pelabuhan perdagangan di pulau Kalimantan, menempati area seluas 107,82 km² di delta Sungai Kapuas. Hal ini terletak tepat di khatulistiwa, maka dikenal secara luas sebagai Kota Khatulistiwa (Kota Khatulistiwa). Pusat kota sebenarnya berjarak kurang dari 3 kilometer (2 mi) selatan khatulistiwa.
Kota ini dulunya adalah ibu kota Kesultanan independen Pontianak dan didirikan pada tanggal 23 Oktober 1771 di sekitar sebuah stasiun perdagangan lama di pantai Kalimantan. Bangunan ini dibangun di atas tanah rawa yang terkena banjir biasa di tepi sungai, membutuhkan bangunan yang akan dibangun di atas tumpukan agar tidak terguling. Nama Pontianak mengacu pada cerita tentang hantu yang orang-orang di Kalimantan Barat sebut sebagai Pontianak (hantu wanita ganas dalam bahasa Melayu); itu adalah sarang hantu sampai Syarif Abdurrahman Alkadrie dan Angkatan Daratnya melawan dan mengekstrusi hantu yang menyerang kelompoknya dengan menembakkan bola meriam. Dia kemudian membangun sebuah masjid dan istana, tepat di lokasi sarang hantu, dan menetap. Masjid dan istana menjadi bangunan pertama di Kota Pontianak. Sampai hari ini, orang-orang Pontianak melakukan syuting meriam dari kayu gelondongan setiap bulan Ramadhan dan acara liburan untuk membayar atribut kepada Sultan.

Pengembangan Awal
Sejarah kota Pontianak ditulis oleh seorang sejarawan Belanda, V.J. Verth dalam bukunya Borneos Afdeling Wester, yang isinya sedikit berbeda dengan versi cerita yang beredar di masyarakat saat ini.

Menurutnya, Belanda mulai pergi ke Pontianak pada tahun 1773 dari Batavia. Verth menulis bahwa Syarif Abdurrahman, putra ulama Sharif Hussein bin Ahmed Alqadrie (atau dalam versi lain yang disebut Al Habib Husin), meninggalkan kerajaan Mempawah dan mulai mengembara. Di wilayah Banjarmasin, ia menikahi saudari Sultan Banjar Sunan Nata Alam dan disumpah sebagai Pangeran. Ia berhasil dalam perdagangan dan mengumpulkan cukup banyak modal untuk mempersenjatai kapal dan kapal Pencalang lancangnya, lalu ia mulai berperang melawan penjajahan Belanda.

Dengan bantuan Sultan Sand, Syarif Abdurrahman kemudian berhasil membajak kapal Belanda di dekat Bangka, juga kapal Inggris dan Prancis di pelabuhan Pasir. Abdurrahman menjadi orang kaya dan kemudian mencoba mendirikan pemukiman di sebuah pulau di Sungai Kapuas. Ia menemukan Sungai Porcupine yang bercabang dan kemudian mengembangkan kawasan tersebut menjadi pusat perdagangan yang makmur. Inilah wilayah yang sekarang disebut Pontianak.

Colonial Rule
Pada 1778, penjajah Belanda dari Batavia memasuki Pontianak, dipimpin oleh Willem Ardinpola. Belanda saat menempati daerah yang berlawanan dengan istana kekaisaran yang sekarang dikenal dengan sebutan Tanah Seribu atau Daerah Verkendepaal.

Pada tanggal 5 Juli 1779, Belanda membuat kesepakatan dengan Sultan masyarakat adat Seribu untuk melayani wilayah kegiatan bangsa Belanda yang kemudian menjadi tempat tinggal Residen pemerintah Hoofd Westeraffieling van Borneo (Kepala Daerah tempat tinggal Kalimantan Barat) dan Residen Asisten Hoofd der Affleeling van Pontianak (Asisten Residen Kepala Kabupaten Pontianak). Kawasan ini kemudian menjadi Controleur Onderafdeeling van het Hoofd Hoofd Pontianak atau Plaatselijk Bestuur van Pontianak.

Kode Pos Desa

Asisten Residen Hilir Hoofd van der Afdeeling Pontianak (Bupati Pontianak semacam itu) mendirikan Plaatselijk Fonds. Agensi mengelola kekayaan eigendom atau pemerintah dan mengurus dana pajak. Plaatselijk Fonds kemudian mengganti nama Shintjo selama populasi Jepang di New York City.